Lingkungan rumahku memang ditumbuhi banyak rumput hijau yang mana hal itu juga membuat banyak peliharaan tetangga yang masuk ke dalam sekitar rumahku.
Tak terkecuali kucing milik tetangga sebelah yang sering bolak-balik masuk,aku tidak marah akan hal itu karena kucing itu juga kucing yang lucu,Persia kalo tidak salah jenis ras kucing itu.
Yang dipermasalahkan adalah ketidaktahuan si pemilik kucing ini kemana perginya kucing peliharaan dia.
Benar saja sore saat aku sedang duduk di depan ,ku lihat seseorang yang sedang mondar-mandir dengan muka kebingungan,ku sapa orang itu dan ternyata pak jali ,tetangga sebelah yang mana beliau adalah pemilik kucing yang sering main ke rumahku.
"Cari kucing ya pak?* Tanyaku langsung
"Ah iya bener kok tau?." Jawab pak jali
Segera ku masuk dan mencari kucing itu,karena sudah sering ke rumahku ,akupun hapal dimana tempat favorit kucing itu diam,benar saja dibawah meja belajar di kamar adikku,langsung ku ambil lalu ku berikan ke pada pak jali.
"Ini lho pak".
"Ahh iya ini yang saya cari,makasih yaa mas".
Akhirnya pak jali pun pulang dengan membawa kucingnya yang sempat membuat beliau cemas.
Berbuat kebahagiaan pada sesama
Rabu, 25 September 2019
Meminjamkan buku
Saat masih SMA kemarin,buku paket mata pelajaran adalah barang wajib yang harus dibawa masing-masing siswa untuk menunjang proses belajar mengajar di kelas, walaupun sudah dijelaskan bahwa membawa buku mata pelajaran adalah wajib,ada saja yang bandel melupakan buku itu dirumah.
Sebut saja roni,temanku saat SMA namun beda kelas.
Sudah tau hari itu dia ada pelajaran matematika,yang dimana guru dari mapel itu dikenal sangat disiplin dalam semua hal yang berkaitan dengan pelajarannya termasuk buku tadi.
Sebelum kelas Roni di mulai,dia sudah terlihat seperti orang kebingungan,mencari pinjaman buku dari satu kelas ke kelas lain,apesnya dari semua kelas yang dia datangi tidak ada mapel yang sama dengannya.
Sampai akhirnya dia masuk ke kelasku dan segera menanyakan apakah ada hari ini kelas kalian pelajaran matematika,kujawab ada.
"Syukurlah,selamat aku hari ini". Ucap Roni lega.
Ku ambil buku itu dan kupinjamkan ke Roni dengan syarat setelah bel pelajaran matematika dia selesai,buku itu harus dikembalikan padaku,ia pun menyanggupi nya dan ia pun segera kembali ke kelas dengan selamat.
Sebut saja roni,temanku saat SMA namun beda kelas.
Sudah tau hari itu dia ada pelajaran matematika,yang dimana guru dari mapel itu dikenal sangat disiplin dalam semua hal yang berkaitan dengan pelajarannya termasuk buku tadi.
Sebelum kelas Roni di mulai,dia sudah terlihat seperti orang kebingungan,mencari pinjaman buku dari satu kelas ke kelas lain,apesnya dari semua kelas yang dia datangi tidak ada mapel yang sama dengannya.
Sampai akhirnya dia masuk ke kelasku dan segera menanyakan apakah ada hari ini kelas kalian pelajaran matematika,kujawab ada.
"Syukurlah,selamat aku hari ini". Ucap Roni lega.
Ku ambil buku itu dan kupinjamkan ke Roni dengan syarat setelah bel pelajaran matematika dia selesai,buku itu harus dikembalikan padaku,ia pun menyanggupi nya dan ia pun segera kembali ke kelas dengan selamat.
Membeli dagangan
Kala siang,ditengah panas dan teriknya sinar matahari banyak sekali para pedagang yang menjual dagangannya masing-masing,tak terkecuali pedagang asongan yang berada di perempatan jalan.
Hari minggu seingatku,saat aku dan temanku berhenti di perempatan karena lampu merah,ada satu pedagang yang membuatku rada miris melihatnya,ku tebak dia sudah berkepala 5 ,tapi beliau masih berjualan dijalanan begitu.
"Pak." Panggilku
"Ooh,airnya mas?" Jawab pedagang itu.
"Iya pak,ambil 2 botol ya,berapa?"
"Rp 6000 aja mas."
Tak pikir panjang dan kebetulan uang yang ku ambil saat itu sebesar Rp 20000,langsung ku beri tanpa meminta kembalian dari beliau,mungkin itu jumlah yang kecil bagi kita,tapi lain halnya dengan orang lain.
Akhirnya lampu pun berubah hijau,kami bergegas melanjutkan perjalanan kami,seraya si pedagang itu mengucapkan kata terimakasih.
Hari minggu seingatku,saat aku dan temanku berhenti di perempatan karena lampu merah,ada satu pedagang yang membuatku rada miris melihatnya,ku tebak dia sudah berkepala 5 ,tapi beliau masih berjualan dijalanan begitu.
"Pak." Panggilku
"Ooh,airnya mas?" Jawab pedagang itu.
"Iya pak,ambil 2 botol ya,berapa?"
"Rp 6000 aja mas."
Tak pikir panjang dan kebetulan uang yang ku ambil saat itu sebesar Rp 20000,langsung ku beri tanpa meminta kembalian dari beliau,mungkin itu jumlah yang kecil bagi kita,tapi lain halnya dengan orang lain.
Akhirnya lampu pun berubah hijau,kami bergegas melanjutkan perjalanan kami,seraya si pedagang itu mengucapkan kata terimakasih.
Kebahagiaan yang lain
Andi namanya,dia teman sekelasku di ittp ini,hari itu setelah selesai kelas, akupun berjalan keluar untuk duduk di kursi yang terdapat di depan kelas,saat sudah duduk.
Tiba-tiba dia datang padaku,"Fik pinjam motormu dong",spontan ku jawab "lah,buat apaan emang?" ,"Biasa buat jalan bentar sekalian cari makanan"
Ohhh,singkat jawabku , lantas ku berikan kunci motor yang kupunya,mengingat dia anak kos yang sedang kelaparan mencari makan,senang sekali rasanya bisa membantu teman.
Selasa, 17 September 2019
Berbagi kebahagiaan
Siang tadi saat saya keluar kelas ,saya berbincang dengan teman saya tentang bagaimana rasanya kuliah,saat sedang asik-asiknya berbincang,perut kami tiba-tiba mulai keroncongan.
Inisiatif saya pun mengajak teman saya untuk makan,tetapi pada saat saya ajak,teman saya ini ternyata kelupaan membawa uang.
Kebetulan hari ini saya membawa uang lebih,tak berpikir panjang saya pun menawarkan agar saya yang membayar makanan untuk kami berdua.
Setelah dia mengiyakan kami pun bergegas mencari rumah makan terdekat,ternyata membuat seseorang bahagia itu mudah dan juga sederhana.
Langganan:
Komentar (Atom)